Remahan.com

Penemu Alat Melihat Potensi Diabetes yang Pilih Riset Ketimbang Kerjakan PR

REMAHAN.com - Kecintaan pada dunia penelitian membuat Celestine Jovanna Wenardy menjadi salah satu penemu muda yang mengharumkan nama Indonesia di tingkat dunia. Alat untuk melihat gula darah serta potensi diabetes atau glukometer yang dia temukan mendapatkan penghargaan di Google Science Fair belum lama ini.

Celestine mendapatkan ide setelah melihat angka diabetes di Indonesia yang tinggi. Namun, banyak masyarakat yang tidak mendapatkan diagnosis serta perawatan yang seharusnya.

"Secara sederhana, saya memakai sinyal-sinyal suhu dan cahaya untuk mendapatkan kadar glukosa yang akurat tanpa harus mengambil darah," kata Celestine seperti dimuat Liputan6.com, Selasa (27/8/2019).

Cara kerjanya pun terbilang mudah. Pasien nantinya hanya akan memasukkan jarinya ke dalam alat tersebut. Untuk itu, dia masih mencoba untuk membuat perangkat yang lebih kecil dan sederhana untuk digunakan.

Pelajar 16 tahun ini mengatakan bahwa alat yang ia temukan lebih memungkinkan orang-orang di daerah yang sulit dijangkau layanan medis, maupun masyarakat pada umumnya, untuk lebih mudah dalam mengetahui potensi diabetes.

Baca: Kecamatan Lima Puluh Pekanbaru Miliki Kampung Literasi

"Bukan hanya dokter atau orang yang tinggal di Jakarta, supaya orang tidak harus pergi jauh untuk mendapatkan perawatan," terang siswi British School Jakarta (BSJ) ini.

Celestine mengungkapkan bahwa sesungguhnya metode semacam ini sudah ada sejak 30 tahun lalu. Namun, hingga saat ini tidak pernah berhasil dan tidak ada penelitian lanjutan. Dengan sedikit perubahan, glukometer yang diciptakannya memiliki akurasi yang lebih tinggi.

Adapun, pelajar kelas 2 SMA ini bekerja keras selama satu tahun untuk penelitian tersebut. Setidaknya, untuk prototype, dibutuhkan biaya hingga 30 dollar. Ini jauh lebih murah ketimbang prototype alat non-invasif yang dinilai kurang akurat.

"Tapi habis ini saya gak bakalan berhenti, habis ini saya akan terus mengembangkan ini."

Pilih Riset Ketimbang PR

Baca: Studi Komparasi Perpustakaan, Pejabat Pemko Padang Kunjungi Dispusip Pekanbaru

Dalam Google Science Fair 2019, penelitian yang dikembangkan putri dari Delin Haryati dan Buntoro Rianto ini mendapatkan The Virgin Galactic Pionner Award. Dalam ajang tersebut, dia menjadi satu-satunya wakil dari Indonesia yang bersaing dengan ribuan peserta lainnya.

Untuk penelitian ini, Celestine pun harus membagi waktu dengan sekolahnya. Bahkan, dia mengakui ketimbang mengerjakan pekerjaan rumah, dia lebih suka melakukan penelitian.

Untunglah, pihak sekolah juga mendukung apa yang dilakukan oleh dirinya. Salah satunya dengan menyediakan laboratorium yang bisa digunakan Celstine.

"Dia memiliki talenta yang luar biasa. Ini adalah langkah pertamanya. Apa yang dia lakukan penting bagi Indonesia, juga penting bagi kami sekolahnya," ujar kepala sekolah BSJ, David Butcher dalam kesempatan yang sama.

Butcher sendiri berharap agar nantinya penelitian yang dilakukan salah satu pelajarnya ini bisa membawanya ke jenjang yang lebih tinggi. Selain itu, dia juga ingin agar Celestine bisa menempuh pendidikan yang lebih tinggi di pendidikan kelas dunia serta menginspirasi pelajar lainnya.

Baca: Bagaimana Kelanjutan Sekolah Tatap Muka di Pekanbaru? Berikut Penjelasan Kadisdik

Buntoro, sang ayah, mengatakan bahwa dia dan sang istri selalu mendukung putrinya untuk melakukan apa yang ingin dilakukannya. Khususnya dalam penelitian semacam ini.

"Yang penting kita memberikan support yang lebih konkrit. Dia maunya apa, ada kebebasan saja. Kita monitor saja apa yang dia perlukan dan bekerjasama dengan sekolah juga," kata Buntoro.

Dukungan pun tidak hanya sebatas pada dana untuk riset, yang terpenting adalah kepercayaan dan kebebasan bagi sang putri untuk melakukan apa yang ia inginkan.

Celestine sendiri punya cita-cita sebagai seorang peneliti, sekaligus pendiri startup di bidang kesehatan. Di sisi lain, dia juga ingin berkarir di bidang fisika, komputer, serta teknik listrik. Soal itu, Celestine mengatakan waktunya untuk memilih jalannya cukup panjang.

Selain itu, dia menginginkan agar dunia penelitian Indonesia lebih dikenal oleh mata dunia.

Baca: Geser UGM, UI Perguruan Tinggi Terbaik Tahun Ini

"Saya tahu ada banyak anak seumuran saya yang ingin masuk riset, masuk bidang teknologi dan sebagainya tapi mereka takut karena tidak banyak anak yang melakukan riset. Jadi dengan melakukan ini, saya bisa menginspirasi anak muda di Indonesia untuk melakukan inovasi seperti saya," kata dia. Rm

148 0

Artikel Terkait

Kecamatan dan Kelurahan di Pekanbaru Didorong Segera Miliki Perpustakaan
Kecamatan dan Kelurahan di Pekanbaru Didorong Segera Miliki Perpustakaan

Edukasi

Kecamatan dan Kelurahan di Pekanbaru Didorong Segera Miliki Perpustakaan

Seperti Ini Kebiasaan Baca Buku Bill Gates dan Warren Buffett
Seperti Ini Kebiasaan Baca Buku Bill Gates dan Warren Buffett

Edukasi

Seperti Ini Kebiasaan Baca Buku Bill Gates dan Warren Buffett

Bocah 3 Tahun dari Malaysia Jadi Anggota Orang Jenius Termuda
Bocah 3 Tahun dari Malaysia Jadi Anggota Orang Jenius Termuda

Edukasi

Bocah 3 Tahun dari Malaysia Jadi Anggota Orang Jenius Termuda

Artikel Lainnya

Wacana Hapus UN, Buya Syafii: Jangan Serampangan, Ini Bukan GoJek
Wacana Hapus UN, Buya Syafii: Jangan Serampangan, Ini Bukan GoJek

Edukasi

Wacana Hapus UN, Buya Syafii: Jangan Serampangan, Ini Bukan GoJek

Mendikbud Sebut UN Tidak Dihapus
Mendikbud Sebut UN Tidak Dihapus

Edukasi

Mendikbud Sebut UN Tidak Dihapus

JK Nilai Jika UN Dihapus, Generasi Muda Jadi Lembek
JK Nilai Jika UN Dihapus, Generasi Muda Jadi Lembek

Edukasi

JK Nilai Jika UN Dihapus, Generasi Muda Jadi Lembek

Komentar